A. Pendahuluan
Kegiatan pengajaran bahasa di Indonesia belum ada setengah abad
usianya. Jika yang terjadi di Indonesia selama kurun waktu itu dicoba
dibandingkan dengan rentetean kejadian satu abad maka tentu saja
angka-angka tahun semata-mata tidak dapat digunakan sebagai pegangan
begitu saja. Setidak-tidaknya terdapat dua alasan mengapa demikian.
Pertama, keadaan dan latar belakang dunia pengajaran bahasa di
negara-negara Barat berbeda dengan yang di Indonesia.
Kedua, seluk-beluk pengajaran bahasa yang berkembang selama satu abad
itu dianggap secara garis besar saja lalu dicobakan penerapannya pada
kegiatan pengajaran di Indonesia.
Yang dapat ditangkap secara garis besar dari perkembangan “ilmu”
pengajaran bahasa itu (tanpa perlu memperhitungkan situasi yang
melatarbelakanginya) hanya ada dua arus saja, yaitu limpahan perhatian
pada bentuk (form ) bahasa, dan curahan perhatian pada fungsi (function
) bahasa. Yang pertama merupakan warna pengajaran sepanjang jangka
periode I-III, dan yang kedua warna pengajaran pada jangka periode IV.
Peralihan dari yang pertama ke yang kedua itu di Indonesia ditandai
dengan lahirnya Kurikulum 1984.
B. Faktor sosiokultural pada pembelajaran Bahasa
Penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa pelajar bahasa asing sukar sekali untuk dapat
menguasai pengetahuan yang cukup tentang sejarah, geografi dan
kebudayaan dari masyarakat yang bahasanya sedang dipelajarinya sehingga
ia dapat berpartisipasi sepenuhnya dalam percakapan. Disamping itu
faktor-faktor para linguistk juga merupakan hambatan untuk bisa
berkomunikasi sepenuhny.
Brown (1980) mengatakan bahwa ekspresi kebudayaan begitu terkait dengan
komunikasi non verbal sehingga halangan utama untuk mempelajari
kebudayaan bahasa asing yang dipelajari terletak lebih banyak pada
dimensi non-verbal daripada dimensi verbal. Bahasa verbal praktis belum
memakai semua pancaindra kita untuk berkomunikasi. Pancaindra yang
dipakai untuk bahasa non-verbal adalah (1) penglihatan (visual), (2)
penyentuhan (kinesthetics), dan penciuman (olfactory). Dalam komunikasi
visual termasuk di dalamnya gerak-gerik tubuh (kinesic), kontak
pandangan mata, kedekatan (proxemics), dan benda-benda (artifacts).
Gerak-grik tubuh untuk berkomunikasi ini, misalnya, kita dapati dalam
mengangguk, gerakan mata, dan gerakan tangan – yang artinya berbeda-beda
dari satu bangsa ke bangsa yang lain, bahkan dari satu suku ke suku
yang lain. Kontak mata sebagai komunikasi non-verbal dapat berarti
macam-macam. Dalam kebudayaan Amerika, orang harus bertatapan mata saat
berbicara: kalau tidak demikian, yang tidak berani menatap matanya akan
dianggap kurang sopan, kuang memperhatikan, kurang jujur atau ada
sesuatu yang disembunyikan. Ingat saja ungkapan Amerika yang berbunyi Never trust a person who can’t look you in the eye
. Hal ini sangat berbeda dengan kebudayaan Jepang dan Jawa (dulu
khususnya) yang tidak menganjurkan bawahan menatap muka dan melihat mata
atasannyakalau diajak berbicara, karena hal-hal tersebut dianggap tidk
sopan. Proxemics dalam bahasa non-verbal berarti kedekatan fisik yang
komunikatif. Setiap bangsa nampaknya mempunyai jarak-jarak tertentu
dalam berkomunikasi.
D. Kesimpulan
Pada dasarnya kita bisa mengetahui antara pemerolehan bahasa pertama
(first language acquisition) dan pemerolehan bahasa kedua (second
language acquisition) dimana pemerolehan bahasa pertama diperoleh
melalui aktivitas seseorang dalam menguasai bahasa ibunya. Dimana jalur
kegiatannya bisa didapat melalui pendidikan informal dan pendidikan
formal sedangkan pemerplehan bahasa kedua berlangsung setelah seseorang
menguasai atau mempelajari bahasa pertamadan jalur kegiatannya dapat
melalui pendidikan informal dan pendidikan formal. Selain itu faktor
sosialkultural sangat mendukung didalam menguasai pengetahuan yang cukup
tentang sejarah, geografi dan kebudayaan dari masyarakat yang bahasanya
sedang dipelajarinya sehingga ia dapat berpartisipasi sepenuhnya dalam
percakapan.
References
Brown, H. Douglas.1980. Principles of Language Learning and Teaching . Prentice Hall, Inc.
Sadtono, E.1995. Perspektif Pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia , Seksi Kajian BAHASA DAN Seni FPBS IKIP MALANG.
Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan & Drs. Djago Tarigan,1995. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa . Penerbit ANGKASA Bandung.
Purwo, Bambang Kaswanti.1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa . Penerbit Kanisius,
The Microlinguistics Contrastive Analysis Between Javanese Language Of Banyumasan And English
The Morphological analysis on the Javanese Language of Banyumasan
Error Analysis
Conversation Analysis on Deixis
Classroom Action Research
Quantum Teaching
Theory of Translation
Tes dan Evaluasi
Faktor Sosiokultural pada Pembelajaran Bahasa
Kumpulan Analisa Cerpen
Language Acquisition
Learning Style
Effective Public Speaking Skills